1. siapa pembawa hindu ke kepulauan indonesia menurut teori waisya. 2. mengapa kebudayaan india yang masuk ke indonesia tidak diterima begitu saja oleh bangsa
Sejarah
wahyu3010
Pertanyaan
1. siapa pembawa hindu ke kepulauan indonesia menurut teori waisya.
2. mengapa kebudayaan india yang masuk ke indonesia tidak diterima begitu saja oleh bangsa indonesia.
3. bagaimana pendapat j.l. moens berkaitan dengan teori kesatria.
4. apakah dengan tampilnya dinasti syailendra memerintah mataram berarti dinasti sanjaya telah habis.
5. apa yang membuktikan bahwa agama berkembang di kerajaan kutai adalah hindu siwa.
2. mengapa kebudayaan india yang masuk ke indonesia tidak diterima begitu saja oleh bangsa indonesia.
3. bagaimana pendapat j.l. moens berkaitan dengan teori kesatria.
4. apakah dengan tampilnya dinasti syailendra memerintah mataram berarti dinasti sanjaya telah habis.
5. apa yang membuktikan bahwa agama berkembang di kerajaan kutai adalah hindu siwa.
1 Jawaban
-
1. Jawaban ameliaagustin21
1.waisya adalah pedagang
2.Karena, ketika Hindu-Buddha memasuki Nusantara nenek moyang kita, yakni masyarakat Nusantara telah memiliki dasar-dasar kebudayaan sendiri dan bisa dibilang cukup mapan. Dan selain itu, masyarakat Nusantara sendiri memiliki local genius (kearifan lokal) yang istimewa terhadap kebudayaan aslinya.
Buktinya, meski kemudian masyarakat nusantara menerima sistem agama (dari animisme), namun tidak berarti pemujaan pada leluhur itu lantas ditinggalkan. Justru sebaliknya, pemujaan atau ritual banyak yang disinkretiskan pada budaya asal bahkan itu juga berlangsung hingga islam (arab) dan nasrani (eropa) masuk nusantara. Tahlil, misalnya, mendoakan orang mati selama tujuh hari berturut-turut. Merupakan perselingkuhan ritual islam dengan ajaran lokal Nusantara.
Oleh sebab itu, ketika Hindu-Buddha mulai memengaruhi Nusantara, ajaran mereka tidak diterima begitu saja. Namun dipertimbangkan dioleh serta disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Nusantara.
3.J.L Moens
Dia mencoba menghubungkan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Perlu diketahui bahwa sekitar abad ke-5, banyak kerajaan-kerajaan di India Selatan yang mengalami kehancuran. Ada di antara para keluarga kerajaan tersebut, yaitu para Ksatrianya yang melarikan diri ke Indonesia. Mereka ini selanjutnya mendirikan kerajaan di kepulauan Nusantara.
Kekuatan hipotesis Ksatria terletak pada kenyataan bahwa semangat berpetualang pada saat itu umumnya dimiliki oleh para Ksatria (keluarga kerajaan). Sementara itu, kelemahan hipotesis yang dikemukakan oleh Berg, Moens, dan Mookerji yang menekankan pada peran para Ksatria India dalam proses masuknya kebudayaan India ke Indonesia terletak pada hal-hal sebagai berikut, yaitu:
Para Ksatria tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa;
Apabila daerah Indonesia pernah menjadi daerah taklukkan kerajaan-kerajaan India, tentunya ada bukti prasasti (jaya prasasti) yang menggambarkan penaklukkan tersebut. Akan tetapi, baik di India maupun Indonesia tidak ditemukan prasasti semacam itu. Adapun prasasti Tanjore yang menceritakan tentang penaklukkan kerajaan Sriwijaya oleh salah satu kerajaan Cola di India, tidak dapat dipakai sebagai bukti yang memperkuat hipotesis ini. Hal ini disebabkan penaklukkan tersebut terjadi pada abad ke-11 sedangkan bukti-bukti yang diperlukan harus menunjukkan pada kurun waktu yang lebih awal.
4.Dinasti Syailendra
Dinasti Syailendra diduga berasal dari daratan Indocina "Bangsa Chin" dan "Kerajaan Asoka" (sekarang Thailand dan Kemboja). Dinasti ini bercorak Budha Mahayana, didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Pada awal era Mataram Kuno, Dinasti Syailendra cukup dominan dibanding Dinasti Sanjaya. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Dinasti Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833). "Maharaja Dewa dari Kerajaan Asoka Memerintahkan anak-anaknya untuk menyebarkan ajaran yang dianut mereka (Yakni Hindu, sedangkan Bangsa Chin menyebarkan agama budha)... Bangsa Sanjaya cikal bakalnya dari Kerajaan Asoka sedangkan Bangsa Syailendra cikal bakalnya dari Bangsa Chin ("Bukan Ching").
5.Disebutkan dalam Yupa bahwa Raja Mulawarman memberikan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana dari Hindu aliran Siwa. Hal ini menunjukkan bahwa Raja Mulawarman adalah raja beragama Hindu Siwa yang taat. Adalah kebiasaan bahwa agama/budaya apapun yang dianut oleh raja suatu kerajaan di zaman kuno, baiklah menjadi agama/budaya kerajaannya juga. Itulah mengapa Kerajaan Kutai adalah kerajaan bercorak Hindu Siwa.